Monday, September 5, 2011

Pesona Kupang, Timor barat.

Beta so mau pigi deng pesawat, hmmm begitulah kira-kira percakapan yang saya dengar pada saat menunggu bagasi. Logat yang tidak biasa dan sangat aneh untuk di dengar. Di bandara ini semua masih sangat sederhana, belt bagasi hanya ada 2 line, dan 1 line saya rasa sudah rusak. Cat yang sudah mulai kusam, dan bangunan yang juga sudah tua. Beberapa tahun lalu bandara ini melayani penerbangan internasional dari Australia, namun setelah beberapa tahun belakangan penerbangannya dihapus. Mungkin karena Timor Timur sudah merdeka dan penerbangan mereka alihkan kesana. Yak kota yang saya bicarakan adalah Kupang. Sebuah kota yang jarang terdengar dan jarang menjadi tujuan wisata. Kami pun tidak merencanakan apa-apa di kota ini, hanya menunggu pesawat esok hari menuju salah satu surga diving di Indonesia.

Taksi menuju kota Kupang dari bandara El Tari menggunakan rate fix yaitu 60k, cukup terorganisir oleh koperasi setempat. Tujuan kami adalah Lavalon B & B, terletak di jalan Sumatra, hanya ini tempat menginap murah yang kami dapat infonya dari internet. Dengan 55k sudah dapat menginap di kamar basic dan bersih :). Keuntungan menginap di hotel murah dan favorit turis-turis bule adalah informasi wisata yang lengkap. Jadilah kami bertemu dengan guide dan mulai berbicara tentang tempat wisata yang sangat menarik di Kupang. Yang sebelumnya belum pernah tau dan dengar. Hmmm..mari siap siap kamera, sunglasses, mari..


Tujuan pertama, kami dibawa ke padang rumput yang gersang, panas terik pun sangat menyengat kulit. Dan mobil pun berhenti di tengah-tengah padang rumput, kami sempat ragu dan berpikir "aduh guidenya lagi gitting ga yah", kami pun mulai berjalan dan benar saja nyasar dan kami kembali lagi ke arah mobil dan mencoba jalan lain. Dan di tengah-tengah padang tersebut pun ada timbunan batu dan ternyata ada goa yang sangat gelap. Kami pun mulai menuruni goa tersebut dengan rasa cemas, masih beruntung kami membawa satu senter. Perlahan-perlahan kami mulai mendapatkan cahaya dari lubang pintu masuk, dan di bawah mulai terlihat pantulan air berwarna biru dan ternyata sangat jernih. Kami pun langsung tenang dan sangat terpana melihat air tersebut. Bening dan Biru..seperti di tipi tipi..Bahkan bisa berenang di dalam kolam alami tersebut.


Setelah bermain-main dan menikmati indahnya goa tersebut, kami pun kembali untuk mengunjungi air terjun Oenesu, sebuah air terjun di kupang yang juga tidak pernah kedengaran suaranya, padahal air terjun ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan air terjun yang ada di Thailand sewaktu saya trekking di Chiang Mai, maupun air terjun Cibereum Cibodas, maupun Cikaso Ujung Genteng. Air terjun ini tingkat 3, dengan pemandangan hutan hujan tropis yang sangat lebat dan subur. Suara deburan air yang terus menderu, cipratan air yang membuat sejuk dan air yang sejuk membuat kami terus bermain air disini. Air terjun ini pun menjadi lokasi untuk uji nyali, kolam yang lumayan dalam membuat kami bisa lompat dari tangga ke-2, kira-kira setinggi 15 meter, lompat ga yah, kayanya seru..lompat aja deh..byurrrrr..Seru sangat bermain di air terjun ini.


Setelah puas dikejutkan dengan keindahan Kupang, kami pun melanjutkan perjalanan ke Pantai Tablolong yang sangat luas dan bersih, tempat ini menjadi salah satu pengembangan rumput laut terbesar di Kupang. Pantai yang cukup populer untuk penduduk kupang menghabiskan akhir minggu bersama keluarga bermain dan berenang di laut.

Kami pun menutup hari dengan makan malam di pasar malam. Sebuah penutup yang manis untuk malam terakhir di Kupang. :)

Tibet kecil di negeri seberang..

Selembar surat aplikasi visa, foto 4x6, dan juga tiket pesawat pulang sudah di tangan, berangkatlah kami menuju kedutaan India di Kathmandu. Yang akhirnya ditolaklah permohonan kami pada saat itu. Kami diharuskan untuk mengajukan form telex, yang ditujukan ke kedutaan India di Indonesia untuk memastikan kami bukan teroris atau kriminal internasional. Jadilah kami menunggu seminggu lagi di Nepal hanya untuk selembar visa.

Tepat sebulan lalu kami mengunjungi India hanya untuk transit untuk menuju Nepal, kesan pertama begitu jelek, kami mengalami berbagai pengalaman buruk. Hotel yang kami booking jauh hari sangat kotor dan tidak sesuai dengan di internet, garasi saya jauh lebih bersih. Saya bertemu dengan orang-orang yang bersikap baik dan malah kami dipaksa untuk membeli sesuatu atau diantar ke travel agen yang memberi harga selangit. Saya pun juga trauma dengan kotornya terminal maupun stasiun, maupun pasarnya, hati pun sangat bahagia dan semakin cinta Negeri sendiri karena pasar tradisional kita ternyata jauh lebih bersih. Meskipun kami sudah berhati-hati, akhirnya kami pun tertipu oleh agen, karena kami memburu waktu untuk sampai di Nepal secepatnya. Jadilah kami membeli tiket yang kami pikir itu harga normal, karena puluhan agen yang kami datangi memberi harga yang sama, setelah naik bis dan terkejut dengan bobroknya bis itu, kami pun bertemu dengan turis perancis dan ngobrol panjang lebar. Barulah kami tau kalau puluhan agen itu kompak dalam hal menipu, kami dapat harga hampir 10x lipat untuk sebuah “deluxe” bus yang lebih baik metro mini kita. Dan hebatnya dalam bis kami merasa di kebun karena nyamuk dengan gencarnya memangsa, setidaknya sepuluh bentol menemani beberapa hari ke depan. Kami pun kesal setengah mati dan mencaci maki penipu penipu jahanam itu.

Akhirnya setelah mendapat ketenangan di Nepal, kami pun ingin sekalian mengunjungi India karena ingin menghadiri “Dalai Lama Teaching” di Dharamsala, setelah mengumpulkan mental dan akhirnya visapun kelar, kami naek bis deluxe yang seadanya ke perbatasan Nepal. Selamat tinggal Nepal, Negeri yang penuh dengan damai, selamat datang India, negeri yang keras :P.

Kami berangkat dari Sunauli perbatasan Nepal dengan India, dan menuju Gorakhpur dan lanjut dengan kereta ke Delhi, perjalanan hampir 30 jam nonstop dengan kelas ekonomi. Versi termurah yang bisa di dapat untuk menuju Delhi, kami berdua hanya menghabiskan sekitar Rp 80 ribu untuk perjalanan tersebut hehe. Tiba di Delhi kami pun tidak mau berlama-lama, kami langsung memesan tiket bis dari dinas pariwisata yang resmi, kami sudah anti transaksi dengan agen, kalau tidak ditipu yah ditipu. Kota yang kami tuju McLeod Ganj Dharamsala, tempat tinggal dan tempat pengungsi ratusan ribu penduduk Tibet pasca kependudukan China. Pepatah yang cocok di india berani bertanya berani tersesat di jalan :)). Jadilah kami membeli buku panduan Lonely Planet, kali ini supaya rasa paranoid tidak terus muncul.

Esok harinya pun kami berangkat dari Connaught Place New Delhi menuju McLeod Ganj, kali ini bis mahal namun kualitas tidak mengecewakan, HPTDC memang sangat recommended. 10 jam kurang lebih kami tiba di daerah pegunungan Daulahar, Dharamsala. Kota yang menjadi salah satu favorit turis di India. Kota yang membuat anda merasa di Tibet. Kota ini terletak di antara gunung es dan juga lembah Dauladhar Range, pemandangan alam yang bagus dan juga udara yang sejuk menjadi pelengkap yang manis untuk menikmati damainya kota ini. Sebuah perfect escape dari kotornya Delhi.

Kami tiba di pagi hari dan setelah mencari beberapa guest house hampir semua full atau tersisa kamar yang di luar budget, kami hampir putus asa karena jalanan naik turun dengan beban 20kg di pundak, serasa naik gunung euy. Akhirnya kami menemukan sebuah guest house yang terletak di dalam gang kecil dan bernama Tibetan Ashoka Guest House, dengan harga 200 INR per malam dengan kamar mandi luar, serta selimut yang luar biasa halus dan hangat :P. Kekurangannya satu tidak ada air panas, kalau mandi kudu nunggu matahari ngeceng, kalo ngga ngeceng ya ga mandi deh.

Kalau boleh dibilang Dharamsala sebagai pusat kebudayaan Tibet yang paling besar di seluruh dunia, termasuk Tibet, beberapa praktek pengobatan tradisional Tibet pun ramai pengunjung manca negara, yang terpopuler adalah Men Tsee Kang, yang di pelopori salah satu dokter berpengalaman yang bertanggung jawab atas kesehatan Dalai Lama selama masih di Tibet. Bahkan bule dari Eropa pun datang kesini untuk berobat, wah sebegitu hebatnya kah?jamu ktia kalah ga yah..hehe. Selain pengobatan tradisional Tibet, banyak juga yang menawarkan pengobatan Ayurvedic khas India, yang pengobatannya semua herbal. Dari ribuan tanaman yang di daya gunakan untuk obat-obatan. Jika anda tidak sakit dan ingin belajar pengobatan Ayurvedic disini tempatnya, mulai dari pengantar hingga kelas advance berbulan-bulan.


Kami pun berkesempatan untuk nonton film dokumenter di museum Tibet disini, yang menceritakan sejarah kependudukan China, bagaimana kisah tragis yang menimpa masyarakat Tibet yang sangat mencintai perdamaian. Kisah sedih yang membuat semua orang bertanya kenapa PBB tidak turun tangan? Mengapa fakta yang beredar di publik hanya mengenai kontribusi positif China di Tibet? Semua masyarakat Tibet merasa takut tinggal di tanah mereka sendiri. Saya hanya bisa berdoa semoga Tibet bisa kembali menjadi negara yang damai.

McLeod ganj merupakan pusat untuk meditasi dan juga yoga, meskipun yoga “capital” itu ada di Rishikesh, India, Dharamsala juga menjadi salah satu populasi yogi terbesar di India. Hampir setiap guest house dan pusat kebudayaan menawarkan kursus Yoga dan juga Yoga rutin harian. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau bertapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Katanya Yoga sangat bermanfaat bagi keseimbangan spiritual dan jasmani.

Setelah berhari-hari menikmati kuliner khas Tibet maupun manca negara di Dharamsala, kami pun akhirnya berkesempatan untuk menghadiri “public teaching” Dalai Lama, yang kali ini khusus ditujukan untuk siswa siswi Sekolah TCV School. Para pendatang non siswa diperbolehkan menunggu di luar gedung dan akan ada terjemahan pidato Dalai Lama dalam bahasa Inggris di radio. Bahkan salah satu dari calon Miss Tibet pun datang untuk menghadiri teaching ini. Dalai Lama ini adalah yang ke 14, bernama Tenzin Gyatso. Dalai Lama adalah pemimpin tertinggi di Tibet, yang merupakan reinkarnasi dari Dalai Lama sebelumnya. Masyarakat Tibet juga percaya Dalai Lama ini merupakan manifestasi dari “Bodhisattva of Compassion”. Dan memenangkan nobel perdamaian pada tahun 1989 untuk usahanya yang teguh untuk mendamaikan hati penduduk Tibet selama masa kependudukan China.

Kami pun menyiapkan alas duduk, radio, dan juga makanan minuman sambil mendengarkan ceramah Dalai Lama, topik kali ini adalah sejarah Tibetan Buddhism dan juga asal usul agama. Yang pada intinya sejarah Buddha di Tibet sangat panjang, dan juga mengapa cinta kasih sangat penting dalam penyebaran agama Buddha. Selama hampir 3 jam ceramah pun segera ditutup dan kami bergegas untuk ke depan pintu masuk untuk menyambut Dalai Lama yang akan keluar ruangan. Setelah Dalai Lama mulai berjalan keluar kami merasakan suasana yang tiba-tiba berubah drastis, suasana yang belum pernah kami rasakan sebelumnya. Baru pertama kali saya melihat orang yang penuh dengan aura kedamaian, mukanya sejuk dan terlihat sangat baik. Kami pun semua luluh dan mata berkaca-kaca teringat akan penderitaan yang telah dilaluinya dan masyarakat Tibet dalam menghadapi kekejaman penjajahan. Sungguh perasaan yang langka sekali saya rasakan, sebagai tokoh politik namun dia dapat memperjuangkan perdamaian bagi rakyatnya dan juga bagi seluruh dunia. Hal itu terasa saat menatap raut muka yang sudah mulai berkeriput.

Walau hanya melihat tidak sampai semenit, namun raut mukanya masih terbayang-bayang sampai sekarang, saya pun menyadari beberapa hal yang “essential” dalam hidup ini, kedamaian dan cinta kasih merupakan hal yang utama dalam hidup ini. Agama hanya membantu dalam mencapai hal itu, damai ada di dalam diri sendiri.

Cukup petualangan spiritualnya kami pun berlanjut untuk petualangan kuliner J. McLeod Ganj, beberapa restoran dan makanan yang patut dicoba di sini adalah :

  • Norling : Chicken Garlic dan Manchuriannya enak sekali, juga Manchow Soup
  • Jimmy Italian Kitchen, baked Potato dan wafflenya the best
  • Moonpeake Café White Chocolate layer cake disini super duper enak
  • Lung Ta, Restoran vegetarian Jepang yang yummy dan sehat
  • Café Ri, sebuah resto Korea dengan desain interior yang keren dan makanan yang enak
  • Gakyi Restoran, sebuah restoran Tibet yang menawarkan Momo, Tingmo dan lainnya
  • La Phing dan Noodle, snack asli Tibet dengan rasa yang pedas dan asin, banyak tersebar di pinggir jalan
  • Momo di pinggir jalan
  • Sebuah toko kue di depan kantor pos, yak cheese cakenya juara

Pokoknya semua makanan di McLeod Ganj tidak ada yang mengecewakan, kami 6 hari disana benar-benar tidak pernah kelaparan. Harga pun masih terjangkau mulai dari 10-40rb per porsi.

Jika ingin wisata alam pun anda bisa trekking 1-3 hari menikmati pemandangan gunung es yang merupakan pegunungan Himalaya, namun harus siap fisik, karena sehari bisa jalan 7 jam.

Dan tiba akhirnya untuk mengakhiri petualangan spiritual dan memanjakan perut di McLeod Ganj, dan tiba saatnya untuk kembali menikmati rusuhnya India. Here we go, and Srinagar we go.

Sunday, June 26, 2011

Berada di kulkas raksaksa

Setelah 25 tahun tinggal di atas kompor, baru 4 hari mau masuk kulkas udah banyak cobaan, gw baru mengenal beberapa hal baru di perjalanan ini. Baju yang namanya long john, fleece, down jacket. Juga hal- hal baru yang belom pernah gw lakuin (sumpah..) bobo pake kaos kaki 2, syal, sarung, long john, jaket, jaket, selimut, sleeping bag!! dan masih dingin..miris melihat guide gw cuma pake jaket satu biji -______-"

Hari 4 : Himalayan - ABC (4130mdpl, 13km, 8jam)
Akhirnya tiba hari "summit attack", meskipun ga literally muncak..gw tau hari ini bakal jadi hari terberat naik..guide gw pun ga boong-boong lagi.."hari ini berat ditambah udara tipis, kalo ga cukup aklimatisasi terpaksa ga bisa ke ABC", pagi-pagi uda ditampar bolak balik..baiklah ritual sarapan, counterpainan, sunblockan, (kali ini) nambah jaketan, ok jalan..


Pemandangan di jalan pun menyusuri sisi sungai di suatu lembah tidak bernama, hari ini kita langsung menuju jantung "Annapurna Himalayan Range". Dimulai dengan memasuki gn. Hiunchuli, gw jalan di bawah salju yang mencair..dan kiri kanan gw banyak aer terjun dari salju gitu..guide gw bilang, "ini jalur biasa ditutup karena sering longsor", what the f...!

Yang namanya tanjakan pun ga pake kompromi lagi, meskipun bukan tangga batu, tapi hari ini kita perlu accent 1300m dan 13km. Disini napas aja susah, uda kaya diving udara tinggal 20 bar.
Langkah demi langkah, napas demi napas, aer demi aer, akhirnya Machapuchre Base Camp (M.B.C), point terakhir sblom A.B.C, uda nongol, dan TANGGA terjal kaya ke lantai 46 menara BNI !!!!!!!

Suhu kira-kira sekitar 5-10 derajat celcius di M.B.C, makan siang, megang gelas teh anget lama-lama, meliha muka kiri kanan penuh ratap, mungkin ini udah officialy masuk kulkas.

1 jam = 60 menit = 3600 detik, cuma ngetes ga stek otak disini..maklum oksigen tipis bung..lama-lama bayangan untuk tidur di M.B.C dan menuju A.B.C esok hari mulai menjadi pilihan, tapi setelah otak mendapat oksigen cukup dari sepuntung sampoerna mild, baru bisa berpikir logis dan menolak pilihan tersebut..Pantang mundur katanya !!! ok, 2 jam terakhir gw jalan menembus kabut dengan tongkat, kepeleset di atas sungai yang membeku, ingusan, mata kaya ditetesin vodka kering abis, ini lebih parah dibanding 10 jam di pasir pasir semeru..beneran dah!!

Nyampe A.B.C, moto-moto bentar, sikat gigi odol agak beku, pake semua baju yang bisa dipake, masuk sleeping bag, sarungan tangan, ngaos kaki dobel, resmi masuk freezer di kulkas!!! mari tidur..eh tidur?gw kaga bisa tidur menggigil semaleman..-___-

Hari 5 : Annapurna Base Camp, blue, mesmerizing, cold, white, the feeling is undescribed here..
(please look at the picture)..oiya 360 derajat itu gunung es, kebayang ga kalo berdiri di tengah-tengah es batu raksaksa :)..


"yet this is the best feeling ever in my life, no regret i have been quit my job for this,
i might be stupid for some people but i feel really alive and so damn smart now"


Hari 5, 6, 7 : setelah sempat diguyur salju dan 1 hari dalem freezer, kita harus turun karena konon kalo lama-lama di gunung yang dinginnya begini bisa bikin otak beku, kejang-kejang dan juga pusing pusing ga beraturan. Hampir refresh semua tenaga pas di A.B.C, tapi lutut mengalami kesalahan teknis. Jadi yang tadinya mau lari-larian sasarodotan turun terpaksa jadi kakek-kakek, speed turun gunung lebih lambat daripada naek..jadilah sehari jalan lebih dari 8 jam.


Jinnu terletak di bawah Chomrong, arah jalan pulang sedikit berbeda dengan naik. Disini ada mata air panas, jadi setelah 6 hari trekking berendam disini memandang derasnya sungai dan lebatnya hutan serasa di surga.

Dan akhirnya dengan sisa-sisa tenaga kami berhasil sampai di birethanti lagi di hari ke 7, tapi memang Nepal itu menyimpan sejuta kejutan, di Pokhara sedang ada DEMO, jadi kendaraan umum tidak beroperasi..nasib ya nasib, entah kenapa ada bis turis yang lewat dan menawarkan kursinya tapi setelah jam 6 malam baru bisa berangkat ke kota.

Ok, lumayan manis halangan sebagai penutup perjalanan kali ini, eh tapi belum kelar..

Malemnya salah satu rekan pendaki mancanegara ada yang berulang tahun :), Selamat ulang Tahun Laila Sa' (Brazil). Semoga kita dapat berjumpa kembali dalam petualangan selanjutnya.

Sebagai penutup, setelah 7 hari di gunung gw merasakan angin pantai uda manggil-manggil..sepertinya Derawan atau Sabang menjadi opsi menarik..hehe

Perjalanan menuju kulkas raksaksa

Kulkas raksaksa, ide ini dapet dari temen gw yang nyuruh latian napas di kulkas sebelum mulai trekking di Himalaya :). Dimulai dari mimpi masa kecil yang saking polosnya pengen naek gunung tertinggi di dunia yaitu Everest di Himalaya, sampe tua (20an lowh) gw masih menyimpan angan-angan naek gunung disana hehe. Entah kenapa perjalanan hidup tuh selalu penuh kejutan, gw berenti kerja enak di Manado terus memutuskan untuk ngelayap ke Nepal Himalaya demi kado ultah (telat) istri tercinta :D. Dan trekking yang gw pilih adalah Annapurna Base Camp soalnya foto gunung Annapurna dah jadi wallpaper notebook gw sejak bertahun-tahun.

Persiapan pun dimulai dengan sering buka kulkas dan ngerasain dinginnya, lumayan stress juga harus mengalahkan makan demi olahraga. Apalagi dengan perut yang udah kaya panda fiuh..gw yakin ini pas lagi spring dan ga gitu dingin2 amat tapi google berbicara hal yang lain. Semua foto atau youtube penuh dengan salju abadi (dalam hati mati gw, apalagi bini gw ga pernah naek gunung ama sekali). Tapi dengan susah payah berhasil olahraga rutin (seminggu sekali -__-) sebelum terbang dengan baling-baling bambu airbus airasia.

Perjalanan awal ga gitu ngenakin, ke CGK salah terminal, nebeng mobil patroli ke terminal laen, dipalak juga ama patroli, terbang KL, nunggu 8 jam, terbang Delhi, ketipu, ketipu, ketipu, ketipu, naek bus sampah, sampe Nepal, pala benjol kejedot atep bus (bayangin aja kenapa), sampe kathmandu. Nulis kaya gini aja dah merinding nginget kotor plus susahnya.

Akhirnya tiba tanggal untuk menuju gunung cantik itu, 2 hari sebelumnya dipenuhi dengan tidur dan tidur :). Pagi buta dijemput guide, naek taxi, pemanasan jalan 30 menit, sarapan dan mulai naek gunung.


Hari 1 : Birethanti - Ghandruk (1940mdpl, 10km, 6 jam)
kalo diinget - inget si hari ini penuh dengan tangga dan tangga vertikal 60 derajat, ga kebayang sakitnya kaki, coba gw olahraga lebih, penyesalan emang selalu dateng belakangan, ngepet. 6 jam pertama dilalui dengan keringat membanjir dan penuh ratap.

Ghandruk adalah desa yang dihuni oleh suku Gurung, terletak di ketinggian 1940mdpl dan dikelilingi oleh lembah dan pegunungan yang sangat indah. Di kejauhan kita bisa melihat gagahnya gn. Machapuchre (fishtail) dan juga gn. Hiunchuli, sementara gn. Annapurna masih menyimpan misterinya. Penduduk lokal disini pekerjaannya adalah pertanian, jagung, gandum, dan tidak sedikit juga yang menjadi porter. Karena bakat mereka memang tinggal dan hidup di gunung :). Udara disini juga mulai dingin, jadi saatnya meringkuk sarungan di lodge mountain view.



Hari 2 : Ghandruk - Chomrong (1920mdpl, 9km, 7 jam)
Guide gw Himal ghale menenangkan gw dengan bilang hari ini trekknya flat, Nepali flat : naek dikit, turun dikit, sedikit zig zag, sampe Sinuwa yah. Pagi-pagi udah siap-siap dengan ngoles counterpain, dan siap jalan dengan semangat 45, ketemu tanjakan langsung semangat nenek-nenek T_T. Tapi setelah itu ketemu turunan, asik..eh koq turunnya ga abis-abis, ini gw naek apa turun gunung sih..guide gw langsung nunjuk desa di seberang bukit nan super jauh disana. Selanjutnya gw cuma manyun mandangin keledai keledai lewat sambil berak depan gw.

Akhirnya setelah turun ampir 3 jam, dan NAEK 4 jam kita sampe di Chomrong yang ketinggiannya di bawah Ghandruk dikit. Kita meleset dari target yang harusnya Sinuwa yang masih 2 jam di depan, tapi apa daya kaki udah mau pecah berkeping-keping. Disini kita bertemu dengan sesama pendaki dari manca negara, Thailand, Korea, Brazil, US, Singapore, Israel, dll..Asik dapet temen :)

Dan disini gw melihat pemandangan hebat, tumbuhan marijuana dimana-mana..haha, dan gw dikasi liat, bentuknya kaya kelereng dan diancurin trus campur tembako. so buggs dulu lah :). Oia namanya Hashis.

Hari 3 : Chomrong - Himalaya (2873mdpl, 10km, 7 jam)
Guide kali ini jujur mengenai nepali flat, dan bilang hari ini trekknya berat, turun tajem, naek tajem dan jalan panjang "flat". Ok, ritual pagi, sarapan, counterpain, packing..jalan !!

Chomrong ini menyipan sebuah keajaiban, sebuah desa kecil yang terletak di puncak bukit, pemandangan ke arah Himalaya lebih hebat dibanding Ghandruk. Kalo pemandangan dari jauh favorit gw di Chomrong :). Tapi ada berita baik selalu ada berita buruk, jalan disini harus siap napas kuda, karena kalo napas lo ga kuat terus berenti, lo bakal nyium tai kuda dimana-mana :)).

Setelah perjalanan naik turun ke Sinuwa (ga separah Ghandruk Chomrong tapi tetep.....), kita memasuki hutan yang dimana masih ada monyet himalaya yang memiliki tubuh hitam dan muka putih bergelantungan, juga ada kambing gunung serta ditutup dengan pohon Rhododendron yang mulai berguguran. Tanjakan demi tanjakan pun kita lewati sampai akhirnya hujan deras, dinginnya nampar pipi kiri kanan. Akhirnya sampe juga di Himalaya. Waktunya bobo dan meringkuk di sleeping bag tebel, sarung dah ga mempan cui..


Hari 4 : Cobaan datang .. Males nulis .. Bersambung :)

Tuesday, May 3, 2011

school of life part 21 : in the land full of scam

3 days in India, just got tricked by travel agency, rickshaw driver, everyone just try to fool you around..life is hard in India.

But the things is patience and acceptance is not come to you without hard times.

You have to know about things, read, and you will not get scammed.